Thursday, January 12, 2017

Racun Tikus Nabati

Tikus adalah binatang yang sangat tidak disukai oleh manusia, selain menjijikkan ternyata tikus juga telah memberikan kerugian yang cukup besar bagi perekonomian sumber kehidupan manusia, seperti lahan pertanian
Secara alami, tikus biasanya  sudah terkendali dengan adanya predator seperti ular, burung hantu, atau burung elang. Tetapi dengan kondisi alam yang sudah tidak seimbang dan sudah rusak seperti ini, pengendalian dengan cara tersebut sudah tidak efektif. Hal ini karena  jumlah predator tersebut sudah sangat sedikit akibat terus diburu dan diperdagangkan.

Penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan hama tikus juga menimbulkan dilema. Di satu sisi berhasil mengendalikan hama tikus, tetapi di sisi lain residunya tidak mudah terurai, sehingga sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Dari sinilah umbi tanaman gadung (Dioscorea hispida Dennust) bisa ”menawarkan” solusi. Umbi tanaman merambat ini merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat racun tikus. Karena berbahan alami, racun tikus jenis ini bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak bakal mencemari lingkungan.
Tanaman gadung termasuk kelompok tumbuhan rodentisida nabati, yaitu kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuhan ini ada dua jenis, yaitu gadung KB (Dioscorea composita) yang mempunyai efek penekan kelahiran (aborsi atau kontrasepsi) yang mengandung steroid, dan gadung racun (Dioscorea hispida) yang mempunyai efek penekan populasi yang  biasanya mengandung alkaloid.
Gadung KB (Dioscorea composita) berbatang persegi empat dengan diameter 2 – 4 mm, tidak berduri, berdaun tunggal berbentuk perisai dan permukaan daun licin;  sedangkan gadung racun (Dioscorea hispida) berbatang bulat dan berduri, daunnya majemuk menjari beranak daun tiga, dan permukaan daun kasap.
Gadung KB, sesuai namanya, tidak mematikan melainkan hanya akan membuat para tikus mandul. Berbeda dengan jenis gadung racun, yang dapat mematikan. Maka disarankan penggunaan gadung berselang-seling antara gadung racun dan gadung KB untuk menyiasati sifat tikus yang jera umpan.

Berdasarkan pengalaman petani disejumlah lokasi, formulasi racun tikus dari gadung adalah sebagai berikut:

Bahan-bahan:
  1. Gadung 1 Kg
  2. Dedak padi/ jagung 1 kg
  3. Tepung ikan 1 ons
  4. Kemiri 5-10 butir
  5. Air secukupnya
Alat-alat:
  1. Penumbuk/ parut/ blender
  2. Ember
  3. Pengaduk
Cara membuat:
  1. Umbi gadung dikupas (pada saat mengupas kenakan sarung tangan plastik, karena getahnya bisa bikin gatal kulit),  lalu dihaluskan dengan blender/ penumbuk/ parut bersama kemiri
  2. Campur dengan bahan-bahan lain kemudian campur air secukupnya
  3. Bentuk menjadi bola-bola kecil kurang lebih 10 gr, jika dibentuk bola pecah tambahkan sedikit air lagi
  4. Jemur sampai kering
Cara aplikasi:
  1. Umpankan bola-bola tadi pada tikus dengan cara meletakkan pada daerah sekitar lubang tikus
  2. Pada saat memasang umpan harus mempergunakan sarung tangan, hal ini disamping untuk perlindungan diri sendiri juga sebagai upaya menghindari penurunan preferensi tikus terhadap umpan.
  3. Pengendalian tikus yang efektif adalah pada saat jumlah tikus sedikit, serentak, terpadu, dan dilakukan secara kontinyu.
Kandungan kimia umbi gadung yang berpotensi menimbulkan gangguan metabolisme (anti makan, keracunan, bahkan manusiapun bisa mengalami ini), yaitu jenis racun dioscorin (racun penyebab kejang), diosgenin (antifertilitas) dan dioscin yang dapat menyebabkan gangguan syaraf, sehingga apabila memakannya akan terasa pusing dan muntah-muntah.
Selain itu, umbi gadung (Dioscorea composita) juga mengandung saponin, amilum, CaC2O4, antidotum, besi, kalsium, lemak, garam fosfat, protein, dan vitamin.  Komponen yang merugikan pada gadung yaitu zat beracun berupa asam sianida (HCN),  yang merupakan bahan aktif dalam pengendalian tikus.
Di kebun kelapa sawit yang belum menghasilkan (TBM) tikus menyerang titik tumbuh atau umbut dengan memakan pangkal pelepah sehingga berlubang dan semua pelepah dibagian atas terkulai atau putus sehingga menyebabkan tanaman mati. Sedangkan pada tanaman yang telah menghasilkan (TM) hamatikus menyerang bunga jantan, bunga betina, daging buah baik buah muda maupun buah matang. Pada kondisi serangan berat dapat mengganggu berlangsungnya proses generatif, yang pada gilirannya menurunkan kuantitas dan kualitas produksi.

Serangan baru ditandai dengan bekas keratan yang masih segar pada objek serangan, misalnya pada buah muda keratan berwarna hijau segar dan pada buah tua berwarna kuning segar.

Tikus dapat berproduksi pada usia 2 - 3 bulan dan masa kehamilan 19-21 hari. Seekor tikus betina bisa melahirkan 5 - 10 ekor setiap kelahiran dan dalam setahun bisa melahirkan 5 - 10 kali dengan perbandingan jantan dan betina: 50% : 50%. Mereka akan kawin lagi setelah 48 jam setelah melahirkan.Dengan perbandingan ini, sepasang tikus bisa menghasilkan keturunan sebanyak 10.000 - 15.000 ekor dalam setahun.


No comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar