Tuesday, August 24, 2010

Ki Purbo Asmoro, S Kar, M. Hum memeriahkan hari jadi kota pati ke 687

PURBO ASMORO, S Kar. M. Hum. (1961 – ) Banyak penggemar yang mananyakan nama aslinya pada berbagai kesempatan berjumpa. Padahal nama aslinya atau nama kecil pemberian orang tuanya ya Purbo Asmoro itu. Lahir di Pacitan, 17 Desember 1961. Tinggal di Gebang, Kadipira, Surakarta. Seorang dalang Wayang Kulit Purwa yang mulai terkenal sejak tahun 1990-an. Keahliannya diwarisi dari ayahandanya yang juga seorang dalang. Kemampuannya itu lalu diasah secara akademis di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, lalu dilanjutkan di Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta, lulus tahun 1986. Setelah lulus mengabdikan diri sebagai dosen di STSI Surakarta. Saat ini (2002) sedang menyelesaikan studi S.2-nya di Kajian Seni Pertunjukan UGM.

Mulai tampil mendalang dimuka umum sejak usia 17 tahun, Purbo Asmoro pernah menjadi Juara I pada Lomba Dalang se-Jawa Tengah, tahun 1992. Ia juga menjadi dalang unggulan pada Festival Greget Dalang 1995. Walaupun berdomisili di Surakarta namun penggemar terbanyaknya justru dari wilayah Jawa Timur.
Dalang yang aktif dalam kepengurusan Ganasidi (Lembaga Seni Pedalangan Indonesia) dan Yayasan Sesaji Dalang, ini pernah pula melawat ke berbagai negara guna mempertunjukkan ketrampilannya mendalang. Antara lain ia pernah ke Inggris, Austria dan Yunani.
Dirinya merasa gagal dalam pertunjukan jika tidak bisa menjalin komunikasi dengan penontonnya. Bisa jadi tingkat apresiasi penontonnya yang kurang baik atau dirinya kurang jeli dalam menganalisa tingkat apresiasi, kondisi sosial dan keinginan penonton setempat.
Sikapnya yang rendah hati, selalu menjawab bahwa dirinya tidak mempunyai suatu kelebihan yang dibanggakan. Jika ditanya apa kelebihan pakelirannya? Ki Purbo Asmoro selalu berusaha untuk bisa menguasai semua-unsur-unsur pakeliran secara merata, tidak ada yang diistimewakan atau gothang ‘cacat’. Kiat keberhasilannya dalam mengolah dan mendramatisasi lakon-lakon adalah dengan banyak menyelami masalah hidup dan kehidupan. Dan banyak belajar dengan para seniman. Suka menonton pakeliran dalang-dalang yang lain, walau dalang tersebut tidak terkenal sekalipun. Menurut Ki Purbo, setiap dalang mempunyai suatu yang khas yang bisa memberikan ispirasi untuk menggarap pakeliran.
Dalam pementasannya didukung oleh kelompok kerawitan “Mayangkara” yang anggotanya kebanyakan adalah mantan anggota Condhong Raos, Ki Nartosabdho. Walau ia piawai dalam menyusun iringan garap pakeliran dalam mendukung suasana, namun belum pernah menghasilkan sebuah karya gending atau lagu.
Pendapatnya tentang reformasi bahwa dari segi keterbukaan dan kebebesan lebih dapat memicu kreativitas dalam berkarya. Sebagai seorang dalang harus berpijak diatas semua kelompok dan golongan. Karena pedalangan adalah menyajikan kesenian yang menggarap nilai-nilai kemanusiaan secara universal

No comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar